05 March 2008

Belajar dari Seorang Ibu

Pengosongan Diri dan Kerendahan Hati Ibu Teresa


Sebuah gelas yang terisi penuh tentu tidak akan bisa diisi lagi. Dengan kata lain semakin gelas itu dikosongkan, akan semakin banyak isi yang dapat dituangkan ke dalam gelas itu. Proses pergulatan semacam inilah yang dialami oleh Ibu Teresa untuk semakin membiarkan hidupnya diisi oleh Allah, sebuah proses pergulatan rohani untuk rela melepaskan diri dari kepentingan ego dan kelemahan manusiawi, kemudian bergerak menuju kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah.

Kesadaran manusiawi setiap orang tentunya selalu mengarahkan manusia untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Melihat kenyataan ini, tentu tidak mudah untuk sampai pada pengosongan diri, mengingat bahwa dalam pengosongan diri orang harus berani meninggalkan semua itu demi Allah.

Ada sebuah pergolakan atau tarik ulur dalam batin setiap orang ketika ia berusaha mencapai pengosongan diri. Pengalaman sepi, kering, dan krisis dalam hidup rohani merupakan pengalaman yang akan dihadapi setiap orang. Pengalaman ini memang harus dihadapi karena ini menjadi satu rangkaian pengolahan hidup rohani untuk semakin menemukan sesuatu yang lebih dalam dan berarti sehingga tidak mengalami kemandegan.

Pergolakan semacam ini juga dialami oleh Ibu Teresa, namun pergolakan ini semakin membawa dirinya masuk lebih dalam dalam pengalaman rohani. Pengalaman ini membawanya untuk melihat bagaimana Yesus sendiri sebagai Putera Allah rela mengosongkan diriNya, menjadi manusia yang tak berdaya (Flp. 2:6). Pengosongan diri merupakan sikap dan pilihan hidup seseorang. ¡§Semakin kosong dan tak berarti, semakin bersedia untuk diisi.¡¨ ungkap Ibu Teresa.

Proses inilah yang membawanya pada penghayatan hidup rohani yang mendalam, sehingga ia semakin mampu membuka diri dan keluar dari dalam diri serta membiarkan kasih Allah memenuhi hatinya. Melepaskan diri dari keinginan dan kehendak diri serta kesenangan hidup yang tidak sesuai, kemudian mengarahkan diri kepada kehendak Allah.

Pengosongan diri memang berkaitan erat dengan sikap rendah hati. Pengosongan diri membawa seseorang pada kesadaran bahwa dirinya hanya bisa melakukan segala sesuatu karena Dia. Kesadaran pribadi bahwa saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, karena lemah, berdosa dan tak berarti dihadapan Allah, membawa seseorang pada sikap rendah hati dan senantiasa menyatukan hidupnya pada Allah. Allah-lah yang membuat hidupnya menjadi berarti. Ibu Teresa memberikan tanda-tanda bahwa seseorang memiliki kerendahan hati yang sejati: Daya tahan untuk terus bergumul, rasa hormat, ketaatan, kegembiraan dalam menerima keterbatasan dan kekurangan, kasih akan sesama terutama mereka yang miskin dan tersingkir, serta ketabahan dalam menghadapi penderitaan dan luka.

Muder Teresa

18 June 2007

Merdeka ! ! ! ? ?

Indonesia sudah Merdeka selama 62 tahun tepatnya pada tanggal 17-08-2007, bangsa Indonesia sudah bebas dari penjajah yang katanya selalu menindas.

Pada jaman penjajahan katanya rakyat Indonesia selalu dalam kekurangan baik sandang maupun pangan, rakyat Indonesia tidak bisa bebas menentukan nasibnya untuk menuju hidup yang lebih baik. Kekuasaan penjajah terlalu menguasai kehidupan bangsa ini, sehingga bangsa ini semakin hari semakin tidak dapat menentukan sikap.....

Sekarang zaman demokrasi yang katanya rakyat sudah bebas untuk menyampaikan pendapat atu aspirasinya, rakyat Indonesia bebas untuk memilih pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya,rakyat Indonesia bebas untuk memilih pendidikan yang sesuai keinginannya, rakyat Indonesia bebas untuk menuntut hak dan melaksanakan kewajibannya...pokoknya sekarang ini Indonesia sudah merdeka......

Tapi untuk sebagian besar rakyat Indonesia di tepi-tepi jalan dan ditepi-tepi sungai mereka masih bingung apa iya Indonesia ini sudah merdeka...apakah merdeka itu sama dengan upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 17 Agustus....? apakah merdeka itu sama dengan lomba makan krupuk...lomba lari kelereng...dan umbul-umbul yang dipasang di kampung-kampung ...?

Sebagian besar rakyat ditepi-tepi jalan dan ditepi-tepi sungai adalah pedangan kaki lima yang sehari-hari mendorong gerobak-gerobak berisi dagangan yang harganya jauh dibawah harga baju-baju di butiq-butiq maupun harga pisang goreng di restoran-restoran yang ada di hotel-hotel mewah.

Mereka bingung harus bagaimana..? nggak jualan ya nggak bisa makan...mau jualan nggak punya lokasi yang aman....tiap hari mereka kucing-kucingan dengan Satpol PP (Penertiban Umum) jangan-jangan nanti gerobak dan dagangan saya digaruk...

Kata pemerintah kami ini selalu menggangu keindahan kota, kami ini menyebabkan kemacetan lalu lintas....sebenarnya sih ada tawaran dari pemerintah untuk diberi lokasi yang aman dan teratur (katanya) tapi tempatnya jauh dari keramaian.... ya mana bisa kami pindah kesana..lalu kami harus jual apa....lha wong yang beli aja nggak ada..!!!

Lebih baik kami kehilangan sebagian modal untuk dapat berjualan ditempat dimana banyak orang yang membeli dagangan kami...ya..kadang kami bayar ke preman-preman....kadang kami bayar ke pejabat pemerintah....yang penting kami dapat berjualan dan dapat untung untuk hidup keluarga kami.

Tapi rasa was-was selalu menggangu pikiran kami disaat kami sedang melakukan pekerjaan kami... kami belum merasa bebas di negara yang merdeka ini ... kami masih kekurangan baik sandang, pangan maupun papan.

Hidup kami masih dikejar-kejar oleh Tibum..rasa kuatir kami masih besar....jangan-jangan lapak-lapak kami digusur pada malam hari saat kami masih nyenyaknya tidur...

Tapi apapun yang terjadi kami harus tetap bekerja...untuk hidup. Merdeka..memang bener merdeka buktinya setiap tanggal 17 Agustus selalu ada upacara bendera...selalu ada lomba-lomba dan pasang umbul-umbul di kampung-kampung....merdeka.

Bagaimana dengan anda..apa sudah merdeka...?

13 June 2007

NIKAH atau KAWIN

Pernikahan bagi sebagian besar umat manusia saat ini hanya merupakan suatu prosesi biasa-biasa saja. Pernikahan bukan lagi merupakan suatu yang sakral dimana perlu persiapan dan persyaratan baik secara agama dan budaya yang luhur.

Kata "Nikah" hampir sama dengan kata "Kawin". Kita bangsa Indonesia biasa menggunakan kata "Kawin" pada sepasang binatang yang sedang birahi (masa kawin), binatang kalo sudah birahi langsung cari pasangannya dan melakukan persetubuhan dimana mereka mau. Tiada ada aturan moral maupun budaya yang luhur pada dunia binatang. Insting mereka selagi ia mampu melakukan ya... ia lakukan.

Hal ini rasanya juga berlaku pada kalangan umat manusia yang sudah merasa mampu (kecukupan ekonomi, mempunyai power, dan mampu menghidupi dirinya sendiri), seprti halnya para artis baik luar maupun dalam negeri.

Salah satu contoh, seperti yang diberitakan oleh Kapanlagi.com :

"Kapanlagi.com - Hampir tiga minggu lamanya usia pernikahan
diva pop Titi DJ dan Noviar Rahmansyah, namun keduanya
belum juga tinggal serumah. Pasalnya, keduanya masih harus
tinggal bersama anak masing-masing. Dan dalam waktu dekat,
Titi dan Ovie kemungkinan akan tinggal satu atap saat
tahun ajaran baru untuk para siswa dimulai.

"Sekarang sedang diurus kepindahan sekolahnya Keisha
(putri Ovie). Jadi, mungkin sampai tahun ajaran baru,
nanti baru pindah," kata Titi saat menghadiri acara
peragaan busana Biyan Bride di kawasan Kemang,Jakarta
Selatan, Kamis (7/6) malam.

Ketika ditanya soal rencana resepsi, Titi mengaku belum
terpikir dalam waktu dekat ini. Katanya, semua masih terus
dipersiapkan termasuk untuk masalah baju dan tempat.

"Kita belum tahu kapan resepsinya. Sekarang masih
mempersiapkan semuanya. Termasuk mau cari baju pengantin
warna hitam dulu," kata pelantun SANG DEWI itu. (kl/fia)"


Kita semua sudah pada tahu kalo Titi DJ sudah tiga kali "nikah" eh.. "kawin" dengan dua kali perceraian.
Dari dua pernikahan yang terdahulu ia dikaruniai empat orang anak (kalo nggak salah....) dari dua orang Bapak.

Titi DJ koq bisa ya dia tidur dengan beberapa laki-laki yang berlainan.....apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama waktu tidur dengan pria yang satu dengan yang lainnya ?

Itu masih Titi DJ sang diva (kata banyak orang), belum Ayu Ashari, Ulfa D., dan teman-teman.

Bagaimana pendapat anda ?


11 June 2007

Omong Kosong

Sebagian besar masyarakat Indonesia dalam menilai/menyikapi suatu kasus atau masalah yang terjadi masih dengan "rasa" tidak dengan "rata" (menempatkan diri pada posisi yang netral).
Sehingga sering terjadi ketidak seimbangan dalam memberikan argumentasi/ pendapat yang berakibat pada salah satu pihak yang bermasalah berdiri dalam posisi tidak menguntungkan.

Satu contoh kasus yang sering terjadi di masyarakat kita :
Suatu peristiwa di sebuah kampung terjadi kecelakaan antara sepeda motor dengan sepeda pancal, dimana pengendara sepeda pancal seorang anak usia SD dan pengendara sepeda motor seorang pemuda yang usianya kira-kira 20 tahun.

Apa yang terjadi.....!!! pengendara sepeda motor tersebut langsung "Benjut" (babak belur) dihajar oleh warga kampung sekitar kejadian. Warga tidak mau tahu sebab musabab terjadinya kecelakaan tesebut, yang mereka tahu pokoke sepeda motor kok nabrak sepeda pancal yang mana pengendaranya anak kecil lagi.

Selang sehari dari kejadian tersbut didepan gang kampung tersebut terpampang plang bertuliskan : "NGEBUT BENJUT"

Lha kalo sebagian besar rakyat Indonesia masih besikap demikian mana bisa negara Indonesia tercinta ini menjadi negara yang adil, aman, tentram dan damai.

Untuk Indonesia kita yang tercinta ini mari kita masing-masing melihat/bertanya kepada diri kita masing-masing : "apa yang sudah aku perbuat untuk negara ini ?".

Dengan begitu kita tidak akan cepat menghakimi dalam meneyelesaikan suatu masalah/konflik yang terjadi.

Demokrasi ya demokrasi tapi jangan dikasih Elpiji...nanti timbul api...!

Bagaimana dengan anda...?

18 April 2006

Ada Apa ?

Banyak pulau di Indonesia yang dijual oleh pemerintah daerah.